Arktik dan Antartika: Dua Kutub Es Serupa Tapi Tak Sama

ALAM

Regina R. Novanka

11/20/20256 min read

Di ujung planet Bumi, terbentang dua wilayah yang sering disamakan karena selimut esnya yang putih tak berujung, suhu yang membekukan, dan malam yang berlangsung selama berbulan-bulan. Namun, pada hakikatnya keduanya merupakan dua entitas geografis yang sangat berbeda. Kutub Utara (Arktik) dan Kutub Selatan (Antartika) bukan sekadar daerah beku; mereka adalah penjaga gerbang iklim yang ada di ujung dunia untuk menentukan nasib pantai-pantai kita, pola cuaca yang kita rasakan, dan keseimbangan suhu global.

Kedua kutub tersebut bisa sangat dingin karena hanya menerima sedikit sinar matahari langsung sepanjang tahun. Ini berhubungan juga dengan letak kedua kutub Bumi tersebut yang berbentuk bola. Dengan Kutub Utara berada di atas dan di bawahnya ada Kutub Selatan. Mari kita simak bersama hal-hal unik lain yang tersimpan di balik kedua kutub Bumi ini.

Dua Dunia yang Berseberangan

Secara geologis, perbedaan paling mendasar terletak pada komposisi pembentuknya. Arktik, yang namanya berasal dari bahasa Yunani ‘Arktos’ (beruang), pada dasarnya adalah sebuah lautan. Lautan Arktik yang dikelilingi oleh daratan (continental landmass) dari benua-benua seperti Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Komposisi ini menjadikannya sebuah ‘lautan yang terbungkus es' (ice-covered ocean). Sebaliknya, Antartika, yang berarti ‘berlawanan dengan Arktik’, adalah sebuah benua sesungguhnya, yaitu sebuah daratan yang sangat luas dan berdiri sendiri, yang seluruhnya dikelilingi oleh Samudra Selatan. Dilansir dari situs National Geographic, Antartika merupakan benua terluas urutan kelima dari tujuh benua yang ada di Bumi, dengan luas Antartika yang mencapai 14,2 juta km². Perbedaan fundamental inilah yang menjadi akar dari seluruh variasi ekosistem, suhu, dan kehidupan di kedua kutub tersebut.

Iklim yang Ekstrem

Kondisi iklim di kedua kutub ini mencapai tingkat ekstrem yang berbeda. Antartika secara konsisten memegang rekor sebagai tempat terdingin, terkering, dan paling berangin di Bumi. Suhu terendah yang pernah tercatat di Stasiun Vostok mencapai -89.2°C. Beberapa faktor berkontribusi terhadap kondisi ini: pertama, ketinggian rata-rata benua Antartika yang sangat tinggi lebih dari 2.300 meter di atas permukaan laut menyebabkan suhu turun seiring kenaikan altitudo (lapse rate). Kedua, lapisan es yang tebalnya rata-rata 1,6 km dan lapisan es tertebalnya bisa mencapai hampir 4,9 km (3 mil), lapisan ini memantulkan kembali hampir 90% radiasi matahari (albedo effect). Ketiga, pada periode Juli ketika Bumi berada pada titik terjauh dari Matahari (aphelion), Antartika justru mengalami musim dingin yang gelap dan panjang, yang memperhebat pendinginannya.

Sebaliknya, Arktik, meskipun masih sangat dingin dengan suhu minimum mencapai sekitar -68°C, relatif lebih moderat. Hal ini karena reservoir panas dari lautan di bawah lapisan es laut berperan sebagai penyangga suhu (thermal buffer), mencegahnya mencapai titik ekstrem seperti di Antartika. Selain itu, fenomena "amplifikasi Arktik" (Arctic Amplification) membuat kawasan ini memanas dua hingga tiga kali lebih cepat daripada rata-rata global, yang menyebabkan penipisan dan penyusutan es laut secara signifikan.

Hari Terasa Sangat Panjang di Kutub Karena Fenomena "Polar Night" dan "Midnight Sun"

Perbedaan musim dan fenomena unik di kutub Bumi, seperti malam yang berlangsung berhari-hari, disebabkan oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi sebesar 23,5 derajat. Kemiringan ini menyebabkan Kutub Utara atau Kutub Selatan secara bergantian menjauhi Matahari selama musim dingin mereka, sehingga Matahari tidak terbit sama sekali di atas cakrawala untuk waktu yang lama. Periode tanpa matahari terbit inilah yang disebut Malam Kutub (Polar Night). Sebaliknya, di musim panas, fenomena kebalikannya terjadi, yaitu Siang Kutub (Polar Day) atau "Midnight Sun", dimana Matahari tidak terbenam selama lebih dari 24 jam.

Dilansir dari laman Poseidon Expeditions, lamanya Malam Kutub bergantung pada seberapa dekat suatu lokasi dengan kutub. Di titik kutub itu sendiri, kegelapan bisa berlangsung hingga 11 minggu. Negara-negara seperti Norwegia, Alaska (US), Kanada, dan Rusia mengalami fenomena ini, sementara di Kutub Selatan, hanya Benua Antartika yang mengalaminya.

Penting untuk diketahui, Malam Kutub tidak berarti gelap gulita sepanjang waktu. Atmosfer Bumi masih membiaskan dan menghamburkan sedikit cahaya Matahari, menciptakan cahaya senja yang memungkinkan kita untuk tetap melihat sekeliling, meski tanpa sinar Matahari langsung. Kondisi senja inilah yang menjadikan Malam Kutub sebagai waktu yang ideal untuk mengamati aurora. Fenomena cahaya aurora ini dibagi menjadi dua penamaan: Di Kutub Utara dinamakan Northern Lights, sedangkan yang terjadi di Kutub Selatan dinamakan Southern Lights.

Waktu yang Kehilangan Maknanya di Kedua Kutub Bumi

Di sebagian besar planet ini, waktu adalah sebuah kepastian. Namun, bayangkan sebuah tempat di mana konsep "sekarang jam berapa" menjadi tidak relevan. Inilah realita yang terjadi di Arktik (Kutub Utara) dan Antartika (Kutub Selatan). Berbeda dengan tempat lain di Bumi, kedua kutub ini tidak memiliki zona waktu resmi.

Dilansir dari laman Scientific American, Seluruh sistem 24 zona waktu di Bumi diatur berdasarkan garis bujur. Namun, di kedua kutub, semua garis bujur itu bertemu dan bertumpuk menjadi satu titik. Akibatnya, jika kamu berdiri di sana, kamu secara teknis berada di semua zona waktu sekaligus. Artinya kamu bisa mengklaim pukul tengah malam di London, pukul pagi di Tokyo, dan pukul sore di New York, secara bersamaan. Mustahil untuk menentukan zona waktu mana yang harus berlaku karena letak geografi kedua Kutub ini.

Karena alam tidak memberikan patokan waktu disana, para ilmuwan dan penjelajah di sana menciptakan aturan waktu sendiri demi kepraktisan. Waktu yang mereka gunakan lebih berdasarkan pada kebutuhan operasional daripada aturan geografis.

  • Sebagian stasiun penelitian memilih untuk mengikuti zona waktu negara asal mereka agar mudah berkoordinasi dengan markas besar.

  • Banyak stasiun penelitian memakai Waktu Universal (UTC) sebagai bahasa waktu bersama untuk memudahkan kerja sama internasional.

  • Ada juga yang mengikuti zona waktu negara terdekat yang mengirimkan pasokan. Misalnya, Stasiun McMurdo milik AS memakai waktu Selandia Baru karena semua logistik datang dari sana.

Dengan kata lain, waktu di kutub tidak ditentukan oleh posisi matahari atau geografi, tetapi oleh keputusan operasional dan kesepakatan manusia. Aturan unik ini juga mengharuskan manusia beradaptasi dengan menciptakan "realitas"-nya sendiri.

Flora dan Fauna

Karakteristik geografi dan iklim ekstrem di kedua kutub ini langsung berimbas pada biosfernya. Arktik menjadi rumah bagi megafauna ikonik seperti Beruang Kutub (Ursus maritimus), yang bergantung pada lapisan es laut sebagai panggung untuk berburu anjing laut. Di sini, kita juga dapat menemukan Rubah Arktik, Rusa Kutub (Karibu), dan Walrus. Sebaliknya, Benua Antartika yang terisolasi secara ekstrem tidak dihuni oleh mamalia darat besar manapun. Ekosistemnya didominasi oleh kehidupan laut dan burung, dengan Penguin sebagai hewan khasnya. Beruang Kutub dan Penguin tidak pernah bertemu di alam bebas, karena mereka menghuni belahan Bumi yang berlawanan.

Dari segi kehidupan tumbuhan, kontrasnya juga sangat jelas. Lingkungan tundra (bioma dataran di daerah iklim sangat dingin dan tanpa pohon) Arktik mendukung sekitar 1.700 spesies tumbuhan vaskular, termasuk bunga seperti Arctic Poppy dan semak kerdil seperti Willow Arktik. Sementara itu, flora di Antartika sangat terbatas. Hanya terdapat dua spesies tumbuhan berbunga, yaitu Antarctic Pearlwort (Colobanthus quitensis) dan Antarctic Hair Grass (Deschampsia antarctica) dan sebagian besar vegetasinya terdiri dari lumut, lumut kerak (lichen), dan alga yang tumbuh di batuan yang tidak tertutup es.

Kehidupan yang Terisolasi

Aspek antropologis dan kehadiran manusia juga menunjukkan perbedaan yang mencolok. Arktik telah dihuni oleh masyarakat adat seperti Inuit, Sámi, dan Nenets selama ribuan tahun, yang telah beradaptasi dengan kehidupan di lingkungan yang keras. Sebaliknya, Antartika tidak memiliki populasi manusia asli dan sama sekali tidak terjamah hingga tahun 1821. Saat ini, benua ini didedikasikan untuk perdamaian dan sains melalui Traktat Antartika, dengan populasi tidak permanen yang terdiri dari 1.000 hingga 5.000 ilmuwan dan staf pendukung yang tinggal di berbagai stasiun penelitian.

Menjaga Es Abadi Bumi

Pada akhirnya, meskipun berbeda, kedua kutub ini berfungsi sebagai ‘pendingin’ planet Bumi (Earth's refrigerator). Lapisan esnya yang luas memantulkan energi matahari kembali ke angkasa, sedangkan perairan dinginnya menggerakkan sirkulasi laut global (seperti Arus Laut Dalam atau Overturning Circulation) yang mendistribusikan panas dan nutrisi ke seluruh dunia. Mencairnya es, terutama di Arktik, tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati setempat tetapi juga mengganggu keseimbangan iklim global, yang berdampak pada pola cuaca, kenaikan permukaan laut, dan stabilitas iklim di wilayah berpenduduk padat. Oleh karena itu, mempelajari dan melindungi Arktik dan Antartika bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan global untuk ketahanan iklim masa depan.

Pemandangan seekor beruang kutub berkeliaran di antara bongkahan es di Kutub Utara. (Foto: Getty Images)

Sumber: NOAA climate.gov

Sumber: CGTN/Jia Jieqiong

Aurora Borealis (Northern Lights) di Norwegia. Sumber: Wikimedia/Carsten