Berenang di Tengah Samudra: Sejarah Tradisi "Swim Call" Angkatan Laut Amerika Serikat
SEJARAH
Regina R. Novanka
11/12/20253 min read


Berenang di tengah samudra dengan kapal-kapal perang berukuran raksasa sebagai satu-satunya penanda daratan? Bagi para pelaut Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy), pengalaman ini bukanlah khayalan semata, melainkan bagian dari tradisi yang dikenal sebagai Swim Call. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama lebih dari satu abad yang terinspirasi dari kebiasaan serupa di Angkatan Laut Inggris (Royal Navy) yang disebut Hands to Bathe. Bagaimana sejarah awalnya, dan mengapa tradisi ini masih bertahan dari gempuran zaman hingga saat ini?
Dari Kebersihan hingga Penghilang Stress
Tradisi berenang di laut ini awalnya bermula dari kebutuhan praktis. Pada abad ke-19, Angkatan Laut Inggris mengenal istilah All Hands to Bathe, yaitu sebuah perintah operasional untuk membersihkan diri yang wajib ditaati, bukan ajakan bersantai secara sukarela. Saat itu, mandi di laut adalah cara paling efisien bagi ratusan pelaut untuk menjaga kebersihan tubuh selama pelayaran panjang yang bisa memakan waktu berbulan-bulan. Seperti pada tahun 1913, awak kapal USS Rhode Island melompat ke laut untuk membersihkan diri setelah membongkar muatan batu bara. Di sisi lain, air tawar di kapal merupakan komoditas yang dijaga jumlahnya karena sangat berharga dan digunakan secukupnya hanya untuk kebutuhan minum dan memasak.
Seiring waktu, tradisi Hands to Bathe ini berevolusi. Tak lagi sekedar untuk kewajiban kebersihan, melainkan menjadi momen penghilang stres dan pemulihan mental bagi awak kapal. Di tengah kerasnya kehidupan di laut momen berenang di perairan biru menjadi hiburan yang sangat dinantikan, terutama saat kapal melintasi wilayah tropis. Adapun pemandangan bersejarah pada masa Perang Dunia II, tepatnya pada April 1944, awak dari sebuah kapal induk tak bernama melepas penat dengan berenang di laguna Pasifik yang hangat di Kepulauan Marshall setelah pertempuran sengit di Kwajalein Atoll untuk merebut Pulau Roi, yang membuktikan bahwa tradisi ini telah berevolusi menjadi penghilang stres di zona perang.
Dari Royal Navy ke US Navy: Lahirnya "Swim Call"
Tradisi Hands to Bathe ini kemudian diadopsi oleh Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) atau US Navy dengan menyebutnya Swim Call. Tradisi ini sudah dilakukan oleh AS sejak sekitar Perang Dunia II, dimana para pelaut AS telah melompat dari kapal perang, kapal induk, hingga kapal selam untuk mendinginkan diri.
Salah satu momen Swim Call paling spektakuler terjadi pada Juni 2016, ketika lebih dari 2.000 pelaut kapal induk USS John C. Stennis melompat dari elevator pesawat ke perairan hangat Samudera Pasifik. Seperti diungkapkan seorang personel, William Harbin, ini adalah “salah satu pengalaman terbaik dalam hidupnya,” yang dilaporkan dalam artikel Smithsonian Magazine edisi 17 November 2016.
Perihal Prosedur dan Keamanan
Swim Call bukan aktivitas sembarangan. Sebelum turun ke air untuk berenang, kapal akan berhenti total di lokasi yang aman, yaitu yang bebas dari arus kuat dan jauh dari rute pelayaran. Yang tak kalah penting, pengawas keamanan akan berjaga. Selain itu juga, para penembak jitu diposisikan di geladak atau di sekoci karet, siap menghalau hiu yang mungkin mendekat saat para awak akan berenang di sekitar kapal. Tim penyelamat juga siaga di sekoci untuk memastikan tidak ada yang terbawa arus.
Di kapal induk milik AS, seperti USS Eisenhower, aturan ketat diterapkan untuk mencegah cedera. Melompat dari ketinggian 30-60 kaki (setara papan loncat Olimpiade) berisiko menyebabkan patah tulang jika teknik masuk air tidak benar. Instruksi khusus pun dikeluarkan agar awak berlatih untuk mencegah cedera akibat kesalahan saat masuk air.
Makna di Balik Warisan Tradisi
Lebih dari sekadar bersenang-senang di air. Bagi awak kapal, Swim Call memiliki makna psikologis yang sungguh berarti. Bagi para awak kapal Angkatan Laut yang menghadapi tekanan operasi militer dan keterpisahan dari keluarga, momen ini adalah penyegar mental yang sangat dibutuhkan selama penugasan panjang.
Tradisi ini juga menjadi penghubung dengan masa lalu, dengan menunjukkan evolusi praktik angkatan laut dari masa Hands to Bathe di Royal Navy abad ke-19 yang tujuan awalnya untuk kebersihan dasar hingga berubah menuju "Swim Call" di US Navy yang bertujuan untuk pemulihan moral, sambil tetap mempertahankan semangat kebersamaan dan penghargaan terhadap tradisi maritim.
Dari perintah wajib membersihkan diri pada era kapal layar, hingga ritual Swim Call di geladak kapal induk nuklir, tradisi berenang di tengah samudra ini menjadi bukti nyata bahwa hakikat manusia tak pernah benar-benar berubah. Kita tetap membutuhkan momen untuk bersantai atau untuk sekadar merasakan kebersamaan. Tradisi ini sekaligus mengingatkan bahwa di sela-sela tugas paling berat sekalipun, manusia selalu bisa menemukan setitik cahaya keceriaan dalam sebuah momen penyegar jiwa di tengah hamparan biru samudera tak bertepi.
Para Angkatan Laut AS yang sedang melakukan Swim Call di tengah samudra. (Foto: U.S. Navy/Mass Communication Specialist 1st Class Bryan Niegel)
