Mengapa Banyak Perempuan Dituduh sebagai Penyihir di Eropa pada Abad 15-18?

SEJARAH

Regina R. Novanka

1/17/202610 min read

Bayangkan sebuah dunia di mana pengetahuan tentang tanaman obat atau sekadar kemandirian ekonomi adalah vonis mati. Selama berabad-abad, Eropa dan koloninya pernah terjebak dalam periode kelam yang kita kenal sebagai perburuan penyihir (Witch Hunt). Namun, di balik narasi mistis tentang sapu terbang dan kuali mendidih, tersimpan kenyataan yang jauh lebih gelap dan memilukan. Ini bukanlah sekadar cerita tentang takhayul, melainkan sebuah sejarah tentang represi terhadap perempuan-perempuan yang dianggap "terlalu tahu" dan "terlalu berani" menantang tatanan sosial yang ada atau bahkan mereka yang dihukum tanpa alasan sama sekali.

Akar Awal Pengetahuan Perempuan Menjadi Ancaman dan Kebencian

Tragedi ini tidak muncul secara tiba-tiba, namun memiliki akar yang jauh hingga ke masa Hypatia dari Alexandria. Ia menjadi simbol awal bagaimana kecerdasan perempuan dianggap sebagai ancaman bagi doktrin yang sedang berkembang. 

Dilansir dari kanal YouTube Ted-Ed, Hypatia adalah seorang matematikawan, astronom, filsuf, dan cendekiawan terkemuka yang memimpin sekolah Platonik di Aleksandria, layaknya rektor di universitas modern. Ia menyempurnakan instrumen ilmiah, menulis buku teks matematika, dan mengembangkan metode pembagian panjang yang lebih efisien. Sebagai guru, ia merangkul warisan pemikiran Plato, Aristoteles hingga Pythagoras sehingga membentuk aliran Neoplatonisme. Di tengah konflik agama dan politik kota, Hypatia berhasil menciptakan lingkungan sekolah yang netral, di mana murid dari berbagai keyakinan (Yahudi, Kristen, dan pagan) bisa belajar bersama. Tak hanya di dunia akademik, ia juga menjadi penasihat bijak bagi Gubernur Orestes, yang sering meminta nasihatnya untuk bertindak adil dan bijaksana.

Namun, posisi netral dan pengaruhnya justru menjadi bumerang. Saat konflik publik antara Uskup Cyril dan Gubernur Orestes memuncak (termasuk kerusuhan yang dipicu para biarawan Cyril hingga melukai Orestes), Hypatia dijadikan kambing hitam. Para pengikut fanatik Cyril menuduhnya melakukan sihir dan menganggap dialah yang menghasut Orestes melawan kekristenan. Pada Maret 415 M, milisi biarawan Cyril menyeret Hypatia dari keretanya, membunuh, dan menyiksa tubuhnya secara brutal.

Pengaruh Munculnya "Malleus Maleficarum" 

Berlanjut pada akhir Abad Pertengahan hingga Abad Pencerahan (Age of Enlightment) atau awal era Modern, gereja dan otoritas negara mulai memperketat kontrol atas masyarakat. Perempuan, yang secara tradisional memegang peran sebagai penyembuh desa, bidan, dan penjaga tradisi lisan, tiba-tiba mendapati posisi mereka terancam. Pengetahuan herbal yang mereka miliki, yang selama ribuan tahun menyelamatkan nyawa, mulai dicap sebagai "ilmu hitam".

Puncaknya terjadi pada tahun 1486 dengan diterbitkannya buku Malleus Maleficarum atau "Palu Para Penyihir" oleh Heinrich Kramer, seorang inkuisitor Jerman. Menurut tulisan Remington Mederos (2020), buku ini bukan sekadar karya sastra, melainkan sebuah manual teknis untuk mendeteksi, menginterogasi, mengadili, hingga mengeksekusi mereka yang dituduh sebagai penyihir. Isi buku ini sangat misoginis; Kramer bahkan memandang dengan sangat rendah dan terpojok, dengan pernyataan:

What else is woman but the enemy of friendship, an inescapable punishment, a necessary evil, a natural temptation, a desirable disaster, a danger in the home, a delightful detriment, an evil of nature, painted with fair color?” tulis Heinrich Kramer, dalam Malleus Maleficarum (The Hammer of Witches).

Kramer berargumen bahwa perempuan secara intelektual lebih lemah dan kekanak-kanakan dibandingkan pria, sehingga mereka jauh lebih mudah jatuh ke dalam godaan iblis. Kramer bahkan menggunakan pembenaran teologis yang keliru, seperti klaim bahwa perempuan diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok sebagai bukti sifat mereka yang tidak murni dan menyimpang. Buku ini dianggap melegitimasi kekerasan terhadap perempuan guna mempertahankan otoritas patriarki dan gereja, bahkan hingga menyalahkan perempuan atas masalah medis seperti impotensi demi menjaga kesucian sakramen pernikahan.

Heinrich Kramer mengategorikan golongan wanita tertentu sebagai target utama tuduhan penyihir. Kramer meyakini bahwa wanita yang hidup mandiri atau "wanita tanpa pria" adalah golongan yang sangat rentan karena mereka dianggap tidak mampu menjaga kemurnian yang dibutuhkan untuk menjadi seorang Kristen yang layak. Selain itu, Kramer menyatakan bahwa "ketika seorang wanita berpikir sendiri, ia berpikir jahat," sehingga wanita yang memiliki otonomi intelektual atau pemikiran independen langsung dicurigai bersekutu dengan iblis. Golongan lain yang disasar adalah mereka yang dianggap memiliki nafsu besar atau perilaku "lecherous", di mana wanita dikaitkan dengan banyak karakteristik tidak masuk akal yang kebutuhannya harus dikendalikan oleh pria, agar pikiran mereka tidak bebas mengembara menuju kejahatan. Terakhir, wanita yang dianggap mengganggu fungsi reproduksi atau menyebabkan ketidakpuasan seksual pria, seperti dituduh menyebabkan "hilangnya alat kelamin pria" secara ilusi, juga menjadi sasaran kemarahan kolektif yang dilegitimasi oleh buku ini.

Risiko Pekerjaan: Mengapa Pekerjaan Perempuan Menjadi Ancaman Mematikan?

Dalam keterangan sejarawan Dr. Philippa Carter dari University of Cambridge mengungkapkan bahwa, tuduhan sihir pada tahun 1597 hingga 1634 merupakan risiko pekerjaan yang nyata bagi perempuan. Pada abad ke-16 dan ke-17, tercatat hanya 10 persen sampai 30 persen tersangka penyihir yang berasal dari kalangan laki-laki sedangkan 80 persennya adalah perempuan. Dr. Carter menjelaskan bahwa perempuan bekerja di sektor-sektor yang menjadi garis depan pertahanan terhadap kerusakan, seperti pengolahan makanan, produksi susu, pengasuhan anak, dan pelayanan kesehatan. Ketika susu berubah menjadi pahit, luka seorang pasien membusuk atau menyebabkan pasien meninggal, masyarakat saat itu sering kali menganggapnya sebagai bentuk sabotase magis atau maleficium.

Bukti statistik dalam penelitian ini sangat mencolok. Dalam kasus kerusakan produk susu, Carter menemukan 16 dari 17 kasus melibatkan perempuan sebagai tersangka. Selain itu, 9 dari 10 tersangka yang berprofesi sebagai penjual makanan adalah perempuan.

Women were both distributers and procurers of food, and failed food exchanges could seed suspicions,” ungkap Carter dalam laman Cambridge.

Kerentanan ini juga diperparah oleh tingginya angka kematian bayi pada masa itu. Karena perempuan mendominasi pekerjaan di bidang kebidanan dan pengasuhan, mereka sering kali dijadikan kambing hitam saat terjadi musibah pada anak-anak. Data menunjukkan bahwa lebih dari 13 persen dari seluruh tuduhan sihir yang menyebutkan nama tersangka melibatkan korban yang berusia di bawah 12 tahun. Bahkan dalam sektor peternakan, meskipun jumlah laki-laki dan perempuan yang mengurus ternak hampir seimbang, ketidakadilan tetap terjadi. Tercatat ada 91 perempuan yang dituduh menyihir ternak dibandingkan hanya 15 laki-laki. "...disputes between men over livestock could get deflected onto women," tambah Carter.

Siapa saja Kelompok yang Dianggap Rentan Tertuduh?

Berdasarkan tesis Julia Morrow (2021) dari Harvard University, perburuan penyihir di Eropa mendominasi perempuan dari kelompok marginal. Di wilayah tertentu seperti Essex, persentase korban perempuan bahkan mencapai 93 persen. Kalangan yang paling sering menjadi sasaran meliputi perempuan lanjut usia, janda, dan mereka yang hidup dalam kemiskinan. Kelompok ini dianggap sangat rentan karena mereka umumnya tidak memiliki perlindungan hukum dari figur laki-laki dan sering kali dipandang sebagai beban ekonomi oleh masyarakat sekitar.

Selain kelompok marginal, tuduhan juga kerap menyasar perempuan yang dianggap cerdas atau memiliki kemampuan khusus. Mereka adalah para bidan dan penyembuh lokal yang memiliki pengetahuan luas tentang tanaman obat serta botani. Pengetahuan medis mereka, termasuk pemahaman mengenai alat kontrasepsi dan aborsi, dipandang sebagai sesuatu yang menyalahi aturan oleh otoritas saat itu. Para perempuan ahli ini semakin terpojok ketika dominasi sektor medis mulai beralih ke tangan laki-laki yang menempuh pendidikan formal di universitas.

Pada masa itu, para penyembuh wanita tidak diizinkan untuk menghadiri dan menerima pelatihan akademis dalam bidang kedokteran di universitas, dan jika mereka tetap mempraktikkan kedokteran, mereka akan didakwa serta dihukum berdasarkan Hukum Kanonik. Gereja bahkan mendukung pelatihan dokter pria untuk menggantikan penyembuh wanita tradisional, terutama dengan mempromosikan akademisi kedokteran dan menjadikan praktik kedokteran ilegal bagi siapa pun yang tidak memiliki izin resmi.

Tak hanya itu, risiko tinggi juga mengintai perempuan yang memiliki kemandirian ekonomi, seperti pemilik properti atau pekerja mandiri, serta mereka yang berkepribadian tegas, asertif, dan berani mengemukakan ide. Perilaku-perilaku tersebut dianggap menyimpang dari norma submisif dalam tatanan sosial patriarki yang berlaku kuat pada masa itu.

Potongan Kisah Mereka yang Menjadi Korban Tuduhan Penyihir

Sejarah mencatat bahwa sebagian besar korban perburuan ini bukanlah mereka yang melakukan ritual gelap, melainkan mereka yang berada di pinggiran norma sosial atau memiliki keahlian medis melampaui zamannya.

Berdasarkan tulisan A. L. Wyman berjudul The Surgeoness: The Female Practitioner of Surgery 1400–1800, nama seperti Jacoba Felicie muncul sebagai contoh nyata; ia adalah seorang tabib perempuan abad ke-14 di Paris yang diseret ke pengadilan oleh fakultas kedokteran karena dianggap berpraktik tanpa lisensi, meskipun banyak saksi membuktikan keberhasilannya menyembuhkan pasien-pasien yang sebelumnya gagal ditangani dokter laki-laki. Wyman menjelaskan bahwa akses perempuan terhadap pendidikan formal (seperti universitas) sangat terbatas, sehingga banyak dari mereka yang ahli justru belajar melalui pengalaman magang, membaca literatur praktis, atau merupakan anggota keluarga medis, baik sebagai istri maupun anak seorang ahli bedah. Meski memiliki kompetensi yang diakui masyarakat, status tanpa gelar resmi membuat mereka rentan dituduh melanggar hukum atau bahkan melakukan “sihir”.

Lebih lanjut, fenomena ini juga diikuti oleh regulasi seperti Undang-Undang 1511 di Inggris yang secara terbuka menyebut perempuan yang menyembuhkan sebagai pengguna “sihir dan ilmu gaib”. Menariknya, Undang-Undang 1511 ini terbukti sulit diterapkan. Pembukaan Undang-Undang tersebut sangat menuduh para wanita melakukan sihir dengan kalimat:

"…and Women, boldly and accustomably take upon them great Cures, and things of great difficulty, in the which they partly use Sorcery and Witchcraft,..."

Adapun Kisah tragis Rebecca Lemp di Nördlingen, Jerman, pada akhir abad ke-16 yang merupakan salah satu dari 32 wanita yang dihukum karena tuduhan praktik sihir dan dibakar. Dikutip dari buku The Encyclopedia Of Witches, Witchcraft, and Wicca 3rd Edition karangan Rosemary Ellen Guiley, disebutkan bahwa sebagai istri dari Peter Lemp, seorang akuntan terpandang, Rebecca bukanlah perempuan biasa. Ia adalah seorang ibu dari enam anak yang memiliki tingkat pendidikan tinggi di zamannya. Namun, kehidupan stabilnya hancur seketika pada April 1590 saat ia ditangkap atas tuduhan sihir ketika suaminya sedang tidak berada di rumah. 

Meskipun Rebecca dengan gigih menyatakan dirinya tidak bersalah, sistem hukum saat itu justru menggunakan siksaan fisik yang sangat brutal untuk mematahkan semangatnya. Dalam kondisi hancur secara lahir dan batin, Rebecca akhirnya memberikan pengakuan palsu tentang adanya pakta dengan iblis dan penggunaan ramuan berbahaya. Pengakuan di bawah paksaan ini sebenarnya hanyalah upaya terakhirnya untuk menghentikan rasa sakit yang tidak manusiawi tersebut.

Di balik jeruji besi, Rebecca menulis surat surat kepada suami dan anak anaknya. Salah satu suratnya yang paling menyayat hati berisi permohonan agar ia diberikan racun demi mengakhiri penderitaan panjangnya. Tragisnya, surat yang menunjukkan keputusasaan seorang terpelajar ini justru dicegat oleh otoritas dan digunakan sebagai bukti tambahan untuk dakwaan percobaan bunuh diri. Peter Lemp sendiri telah melakukan pembelaan berani dengan menulis surat kepada pengadilan. Ia bersaksi bahwa istrinya adalah sosok yang jujur, suci, dan taat beragama, serta menegaskan bahwa pengakuan Rebecca sebelumnya murni hasil dari paksaan.

Sayangnya, pembelaan logis dan bukti kesalehan hidup Rebecca tidak mampu meruntuhkan dinding ketakutan dan prasangka otoritas Nördlingen. Pada 9 September 1590, Rebecca Lemp dieksekusi dengan cara dibakar di tiang pancang di depan umum, sebuah tontonan yang harus disaksikan langsung oleh keluarganya sendiri.

Kecerdasan para perempuan ini dipandang sebagai anomali. Di masa ketika literasi adalah kemewahan, seorang perempuan yang bisa membaca, mandiri atau memahami logika hukum dianggap memiliki bantuan supernatural. Histeria kolektif ini menciptakan lingkungan di mana prasangka, kecemburuan sosial  atau segala bentuk diskriminasi gender bisa berakhir pada hukuman tak berdasar dan penghilangan nyawa perempuan. Mirisnya peristiwa Witch Hunt ini benar-benar nyata terjadi sehingga menjadikannya salah satu zaman paling gelap bagi Eropa.

Pembuktian Penyihir Melalui Tes Air atau Swimming Test 

Antara abad ke-15 hingga ke-18, diperkirakan puluhan ribu orang, yang mayoritas adalah perempuan, dieksekusi di seluruh Eropa. Proses hukum yang dijalankan jauh dari kata adil. Penggunaan siksaan fisik yang brutal digunakan untuk memeras pengakuan. "Tes air" atau swimming test digunakan dengan cara seorang diikat dan dilempar ke air, menunjukkan betapa logikanya telah benar-benar runtuh demi mempertahankan ketakutan massal. Menurut Veena Patel dalam Epoch Magazine, tes yang berasal dari ritual Jerman kuno ini didasarkan pada keyakinan bahwa air baptisan akan menolak orang yang telah berpaling kepada Iblis, sehingga membuat mereka mengapung. Meskipun tidak pernah mendapat pengakuan resmi dari gereja atau hukum Inggris, dan bahkan diragukan keabsahannya oleh para teolog dan dokter pada masa itu, tes ini dipraktikkan secara luas sebagai bentuk kekerasan informal. Kontradiksi dalam pelaksanaannya, seperti dalam kasus Arthur Bill (1612) di mana seluruh keluarganya mengapung tetapi hanya Arthur yang dieksekusi, memperlihatkan absurditas dan sifatnya yang sewenang-wenang.

Fenomena ini bukan sekadar masalah agama, melainkan alat politik dan ekonomi. Di tengah kekacauan perang, wabah penyakit, dan perubahan ekonomi, otoritas membutuhkan kambing hitam. Penggunaan metode seperti tes air, yang bahkan diadvokasi oleh Raja James I dalam bukunya Daemonologie dan dipraktikkan oleh pemburu penyihir seperti Matthew Hopkins, memberikan ilusi pembuktian "ilahiah" yang sah. Para perempuan yang dianggap "Penyihir" saat itu dijadikan sasaran empuk untuk dialihkan sebagai penyebab kegagalan panen atau kematian ternak. Dengan membinasakan para "penyihir" ini melalui mekanisme "pembuktian" yang sudah cacat logika sejak awal, struktur kekuasaan lama berhasil membungkam suara-suara kritis yang mungkin saja bisa membawa perubahan sosial lebih awal.

Keluarnya Aturan Resmi Mengenai Witch Hunt

Seiring dengan meluasnya pengaruh narasi dalam Malleus Maleficarum ke seluruh dataran Eropa, Inggris pun mulai melegitimasi perburuan ini melalui serangkaian undang-undang formal yang memperparah keadaan. Menurut keterangan Professor Matthew Hall dalam kanal YouTube University of Lincoln, persekusi sistematis ini dikukuhkan melalui Witchcraft Act pertama pada tahun 1542 di bawah pemerintahan Raja Henry VIII, yang menetapkan praktik sihir sebagai kejahatan berat yang dapat dihukum mati. Regulasi ini kemudian diperketat pada tahun 1563 di masa Ratu Elizabeth I, dan mencapai puncaknya pada tahun 1604 ketika Raja James I yang dikenal sangat terobsesi sekaligus ketakutan terhadap fenomena sihir, mengesahkan undang-undang yang lebih represif. Pada periode inilah sosok seperti Matthew Hopkins, yang menjuluki dirinya sebagai Witchfinder General, memanfaatkan celah hukum tersebut untuk memburu ratusan perempuan hanya demi imbalan uang dan popularitas.

Raja James I dari Inggris berkeyakinan kuat bahwa dirinya menjadi target konspirasi penyihir yang ingin membunuhnya, keyakinan yang diperkuat oleh peristiwa seperti badai dahsyat yang menghantam kapalnya saat berbulan madu pada 1590, yang ia anggap sebagai upaya pembunuhan gaib. Paranoia ini berakar dari masa kecilnya yang penuh bahaya, termasuk eksekusi ibunya dan beberapa percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Ketakutannya terhadap sihir semakin dipupuk selama kunjungannya ke Denmark, yang sering disebut "pusat intelektual perburuan penyihir". Lebih jauh, keyakinan ini memiliki dimensi religius dan politik: sebagai seorang Protestan yang taat, ia memandang perang melawan penyihir sebagai peran politik ilahiah yang menempatkannya sebagai musuh utama Setan di bumi. Keyakinan ini yang ia gunakan untuk memperkuat kewenangan dan bahkan menjadi bahan ketertarikannya pribadi dalam interogasi tersangka penyihir, sambung Professor Hall dalam penjelasannya.

Sebagaimana dilaporkan dalam laman The History Press, Pengadilan Penyihir Pendle (Pendle Witch Trials) pada 1612 adalah salah satu kasus perburuan penyihir paling terkenal dalam sejarah Inggris, yang mengakibatkan dieksekusinya sepuluh orang. Histeria ini tidak lepas dari pengaruh Raja James I yang terobsesi memberantas sihir. Korban utama dalam pengadilan ini adalah perempuan. Salah satu tersangka, Alice Nutter, adalah seorang janda dari keluarga terpandang dan pemilik tanah, yang kemungkinan dituduh karena keyakinan Katoliknya yang teguh atau karena kehadirannya dalam suatu pertemuan di Malkin Tower yang dituduh pihak berwenang sebagai perkumpulan untuk merencanakan ilmu sihir. Kasus ini menunjukkan bahwa perempuan dari berbagai latar belakang baik tua, muda, miskin, maupun yang berpendidikan dan berkecukupan dapat menjadi target. Kesaksian paksa dari anak-anak, seperti Jennet Device yang berusia sembilan tahun, digunakan untuk menghukum keluarga mereka sendiri, termasuk ibu dan kakaknya.

Dilansir dari laman BBC, Histeria hukum ini baru mulai mereda secara formal ketika Parlemen Inggris mengesahkan Witchcraft Act 1735, yang mendefinisikan ulang dan mengubah arah hukum dengan menyatakan bahwa sihir bukanlah kekuatan supernatural nyata dan mengkriminalisasi tindakan berpura-pura melakukan sihir.

“No Prosecution, Suit, or Proceeding, shall be commenced or carried on against any Person or Persons for Witchcraft, Sorcery, Inchantment, or Conjuration, or for charging another with any such Offence, in any Court whatsoever in Great Britain.” - The Witchcraft Act 1735

Undang-undang tersebut lebih berfokus pada penipuan daripada kepercayaan bahwa orang benar-benar berkomunikasi dengan iblis atau melakukan sihir yang sebenarnya. Perubahan undang-undang ini menandai berakhirnya era eksekusi legal, meskipun stigma sosial terhadap perempuan tetap membekas kuat dalam budaya masyarakat selama beberapa generasi berikutnya.

Cahaya Pengetahuan yang Menolak Padam

Sejarah kelam perburuan penyihir pada akhirnya bukan sekadar tentang api dan kematian, melainkan tentang ketakutan serius struktur patriarki terhadap potensi besar kecerdasan dan kemandirian perempuan yang tak terkendali. Ribuan perempuan mungkin telah binasa dalam kobaran api, namun yang sebenarnya ingin dimusnahkan oleh otoritas kala itu bukanlah sihir, melainkan otonomi: hak fundamental perempuan untuk tahu, untuk berpikir secara mandiri, dan untuk menentukan nasib mereka sendiri. Para eksekutor menginginkan dunia yang patuh dan tunduk pada dogma, bukan dunia yang paham dan mempertanyakan ketidakadilan.

Rangkaian tragedi kemanusiaan ini menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh kecerdasan perempuan hingga mampu menggetarkan tatanan kekuasaan yang mapan. Namun, sejarah membuktikan bahwa meski tubuh para perempuan ini bisa dihancurkan, api pengetahuan dan semangat kesetaraan yang mereka sulut tidak pernah benar-benar padam. Warisan mereka terus hidup dalam setiap langkah perempuan modern yang menolak untuk dibungkam, mengingatkan kita bahwa kecerdasan bukanlah ancaman, melainkan cahaya yang akan selalu menakuti kegelapan penindasan.

Ilustrasi Witch Hunt di Eropa pada Zaman Pencerahan. Menyoroti seorang lansia wanita yang dituduh melakukan praktik sihir.